PUISI
Faizar Bahroizy
Awan-awan berada
dalam keheningan
Meski penuh dengan berjuta kilat.
Jiwaku adalah ombak di dalam samudra kemuliaan-Mu.
& Di dalam keheningan: alam semesta beserta segala isinya tenggelam di dasar samudra kemuliaan-Mu.
Meski penuh dengan berjuta kilat.
Jiwaku adalah ombak di dalam samudra kemuliaan-Mu.
& Di dalam keheningan: alam semesta beserta segala isinya tenggelam di dasar samudra kemuliaan-Mu.
- Jalaluddin
Rumi –
Ku biarkan
senyummu memudar brsama angin
Trhempas jauh, trsentuh warna-warni semesta
Dlm semai-semai bunga yg mmbentang
Menerbangkan ribuan ilalang
Di bawah pelangi yg menjatuhkan tangis
Tanda-tanda yg mmbias di balik rinai hujan
Trhempas jauh, trsentuh warna-warni semesta
Dlm semai-semai bunga yg mmbentang
Menerbangkan ribuan ilalang
Di bawah pelangi yg menjatuhkan tangis
Tanda-tanda yg mmbias di balik rinai hujan
- Faizar
Bahroizy - sastra
offering A -
Beku membisu
terpaku dalam rona-rona sang dewi senyap layu
Hendak berbisik, mulut masih terkatup menahan kata yang terbelenggu rasa
Namun tatap mata tak sudi karam & tetap ingin melontar semai kasih berbingkai
Hendak berbisik, mulut masih terkatup menahan kata yang terbelenggu rasa
Namun tatap mata tak sudi karam & tetap ingin melontar semai kasih berbingkai
- try to say -
Sekian lama,
pandang masih belum mampu lagi menembus murninya cinta
Kenangan yang masih bersandar pada bait-bait kelabu
Kini mulai memutar kembali romansa cerita lewat panggung mimpi
Meski satu persatu seperti hendak memudar bersama keping-keping awan yang membeku
Semuanya masih enggan beranjak & tetap saja ingin datang lagi & lagi
lewat rinai hujan, kenangan itu seolah kembali bersemi dalam hati
Namun, hanya pelangi yang setelah itu datang bersama senyum masa lalu yang telah melebur bersama waktu
Kenangan yang masih bersandar pada bait-bait kelabu
Kini mulai memutar kembali romansa cerita lewat panggung mimpi
Meski satu persatu seperti hendak memudar bersama keping-keping awan yang membeku
Semuanya masih enggan beranjak & tetap saja ingin datang lagi & lagi
lewat rinai hujan, kenangan itu seolah kembali bersemi dalam hati
Namun, hanya pelangi yang setelah itu datang bersama senyum masa lalu yang telah melebur bersama waktu
- Faizar
Bahroizy - di bawah langit yang menyampaikan rindu -
Jangan pernah
tertipu
Ketika senyum manis itu kembali membuatmu layu dan tertegun membeku
Hingga titik-titik terlemahmu tersingkap dalam bisik-bisik angin
Dan membuatmu tertunduk di bawah duri-duri bunga yang hendak menusuk hatimu
Ketika senyum manis itu kembali membuatmu layu dan tertegun membeku
Hingga titik-titik terlemahmu tersingkap dalam bisik-bisik angin
Dan membuatmu tertunduk di bawah duri-duri bunga yang hendak menusuk hatimu
Jangan pernah
tertipu
Ketika lembut tutur kata itu memanggilmu kembali
Sambil bersimpuh bagai awan yang melepuh
Dalam ketidakberdayaan akan kekuatan sang mentari
Hingga rasa iba yang kau miliki
Terpacu kembali dalam misteri yang menjerat mimpi dan perjalananmu
Ketika lembut tutur kata itu memanggilmu kembali
Sambil bersimpuh bagai awan yang melepuh
Dalam ketidakberdayaan akan kekuatan sang mentari
Hingga rasa iba yang kau miliki
Terpacu kembali dalam misteri yang menjerat mimpi dan perjalananmu
Jangan
pernah tertipu
Ketika kilau cahaya yang tergambar dari matanya
Bagai jernih air yang meneduhkan sebagian rasa dalam jiwa
Bersama sejuk air mata yang mengalir seperti butir-butir mutiara
Hingga kau terbius kembali pada lubang hitam
Dan tenggelam dalam rasa yang siap untuk menikam
Ketika kilau cahaya yang tergambar dari matanya
Bagai jernih air yang meneduhkan sebagian rasa dalam jiwa
Bersama sejuk air mata yang mengalir seperti butir-butir mutiara
Hingga kau terbius kembali pada lubang hitam
Dan tenggelam dalam rasa yang siap untuk menikam
Sudah ku
katakan berulang kali
Jangan pernah tertipu
Tapi kau masih saja ragu dengan firasat dan tanda yang seharusnya juga kau tahu
Hingga kau kembali terbenam dalam penyesalanmu
Yang berkali-kali membuatmu bangkit dan terjatuh lagi
Dan lagi
Jangan pernah tertipu
Tapi kau masih saja ragu dengan firasat dan tanda yang seharusnya juga kau tahu
Hingga kau kembali terbenam dalam penyesalanmu
Yang berkali-kali membuatmu bangkit dan terjatuh lagi
Dan lagi
Masih membentang
remang cahaya mentari pagi
Lewat bisik-bisik angin yg meraba celah-celah dedaunan
Ia mencoba memberi sebait rasa
Utk semangat yg mnjelma mnjadi suka & duka
Lewat bisik-bisik angin yg meraba celah-celah dedaunan
Ia mencoba memberi sebait rasa
Utk semangat yg mnjelma mnjadi suka & duka
- salam utk yg
di sana -
Setetes embun yg
mmbentang di balik cahaya msih tak mampu menandingi bening air mata ibu yg
mmbentang d dlm hati anak trcinta, oleh krn itu kasih sayang ibu tak akn prnah
trganti oleh apa pun yg ad di dunia ini
Maaf ibu! Anakmu hanya bisa mengirimkn setitik rindu & kata maaf untukmu yg brada jauh disana!
Maaf ibu! Anakmu hanya bisa mengirimkn setitik rindu & kata maaf untukmu yg brada jauh disana!
Air mata cinta
& rindu utk ibu dlm lebaran yg hanya bisa mmandang bayang kasihmu
Hening, tak
terasa sudah terlewati wajah malam yg penuh makna
Ketika jari jemari bintang membelaikn cahayanya pda sang bulan
Hingga menyebar di atas tempat al-insan yg mulai menyeka penat
Bersama waktu yg sudah mulai menua terhempas zaman yg tlah brkali-kali berganti era
Namun hanya satu keyakinan yg tetap trjaga
Yaitu keyakinan yg trcurah hanya padaMu
Allah, Tuhan pencipta alam semesta
Hingga menyebar di atas tempat al-insan yg mulai menyeka penat
Bersama waktu yg sudah mulai menua terhempas zaman yg tlah brkali-kali berganti era
Namun hanya satu keyakinan yg tetap trjaga
Yaitu keyakinan yg trcurah hanya padaMu
Allah, Tuhan pencipta alam semesta
- berkah seribu
bulan - Lailatul Qadr -
Ada yg berbeda
dr tatap matanya
Ketika warna pelangi mulai terdampar dalam senyumnya
Rinai hujan pun tetap bergejolak dlm syahdu sendu rindu
& perlahan menggugah penat sang bumi
Utk kembali bangkit & memandang cahaya di atas langit
Ketika warna pelangi mulai terdampar dalam senyumnya
Rinai hujan pun tetap bergejolak dlm syahdu sendu rindu
& perlahan menggugah penat sang bumi
Utk kembali bangkit & memandang cahaya di atas langit
Ada yg berbeda
dr lembut lunglai tutur katanya
Ketika bintang-bintang berkelipan menghiasi jalinan asmara antara aku & dia
Hingga bulan pun hanya mampu tertegun pasrah
Sambil berusaha tersenyum manis
Lewat kemilau cahayanya yg tergambar
dalam wajah ayu sang pujaan hati yg masih trbayang dlm seberkas kenangan
Ketika bintang-bintang berkelipan menghiasi jalinan asmara antara aku & dia
Hingga bulan pun hanya mampu tertegun pasrah
Sambil berusaha tersenyum manis
Lewat kemilau cahayanya yg tergambar
dalam wajah ayu sang pujaan hati yg masih trbayang dlm seberkas kenangan
- Faizar Bahroizy - Sastra Offering A -
Biru tak berawan
Bagai ruang hampa tanpa kenangan yang tersisa
Biru tak berawan
Bagai memori yang kosong tak terbaca
Bagai ruang hampa tanpa kenangan yang tersisa
Biru tak berawan
Bagai memori yang kosong tak terbaca
- Faizar Bahroizy - Sastra Offering A -
Melepas senyum
yg pernah terukir dlm bingkai-bingkai angin
Mnjelma rindu kala senja berbisik cerita tentang mereka yg pernah singgah dlm seberkas memori
Jka kalian rindu akn kenangan yg terajut di kota ini, pandanglah langit d malam hri!
Katakan pda bintang "aku akn ttp menyimpan kisah itu dlm hati"
Mnjelma rindu kala senja berbisik cerita tentang mereka yg pernah singgah dlm seberkas memori
Jka kalian rindu akn kenangan yg terajut di kota ini, pandanglah langit d malam hri!
Katakan pda bintang "aku akn ttp menyimpan kisah itu dlm hati"
- Faizar
Bahroizy - Sastra Offering A -
Dalam
keberadaannya, gunung pun mencoba bersuara dan menjerit
Lewat gemuruh kawah, ia seolah mmberikn peringatan
Seberapa lama dunia ini akn bertahan, sampai tiba waktunya brsanding d bawah tahta yg tak akn pernah tergoyahkan
Lewat gemuruh kawah, ia seolah mmberikn peringatan
Seberapa lama dunia ini akn bertahan, sampai tiba waktunya brsanding d bawah tahta yg tak akn pernah tergoyahkan
- Alam Berseru -
Daun-daun
berputar
Mmbentuk sentuhan angin
Dlm hembus nafas
Bersama kenangan lalu
Saat kau berkata "hati kita tlah menjadi satu dlm ikatan yg akn mmpertemukn kita di surga"
Mmbentuk sentuhan angin
Dlm hembus nafas
Bersama kenangan lalu
Saat kau berkata "hati kita tlah menjadi satu dlm ikatan yg akn mmpertemukn kita di surga"
- Faizar Bahroizy - Sastra Offering A -
Sampai kapan
harus termenung mengingat kenangan tentangmu yg tak mampu ku Temukan meski
hanya jejak yg berlalu
Bagai awan yg menghalangi pandang ke atas langit
Wajahmu masih terbayang dalam titik rindu bersama ingatan
Meski kadang terlihat samar berbalut warna lara
Bagai awan yg menghalangi pandang ke atas langit
Wajahmu masih terbayang dalam titik rindu bersama ingatan
Meski kadang terlihat samar berbalut warna lara
~ utkmu yg tak
mampu trgapai lgi ~
Jangan karena
sikapku
Kau berubah menjadi gersang di musim semi
Menikam rasa d balik lambai layu tingkahmu
& melukis separuh warna hitam dalam hati yg lemah
Jgn karena sikapku
Rembulan yg pernah menatapku dengan penuh kasih
Mengerlipkan cahayanya menjadi setitik asa
& tak mau lagi berbagi rasa
Dalam suka maupun duka
Kau berubah menjadi gersang di musim semi
Menikam rasa d balik lambai layu tingkahmu
& melukis separuh warna hitam dalam hati yg lemah
Jgn karena sikapku
Rembulan yg pernah menatapku dengan penuh kasih
Mengerlipkan cahayanya menjadi setitik asa
& tak mau lagi berbagi rasa
Dalam suka maupun duka
Seperti
bulan yg hilang menjauhkan diri
Mimpiku hancur hanya untukmu
Sebuah harapan yg tidak lengkap
Tak bisa beralasan lgi
Karena ku tlah mnemuknmu
Namun kita masih terpisah oleh jarak
Hatimu gelisah
Tanpamu... Tanpamu ad d sisiku
Mimpiku hancur hanya untukmu
Sebuah harapan yg tidak lengkap
Tak bisa beralasan lgi
Karena ku tlah mnemuknmu
Namun kita masih terpisah oleh jarak
Hatimu gelisah
Tanpamu... Tanpamu ad d sisiku
Dalam teduh
nuansa hatiku
Ingin ku renungkan segala resah risauku
Sembari melantunkan syair-syair lirih yang mampu memecah ruang langit yg tetap tertunduk d bwah kuasa-Nya
Ingin ku renungkan segala resah risauku
Sembari melantunkan syair-syair lirih yang mampu memecah ruang langit yg tetap tertunduk d bwah kuasa-Nya
- Faizar
Bahroizy - Sastra Offering A -
Terbit nuansa
sang surya meletakkan penat yang ada dalam lubuk kekosongan hati
Bersama melintas di bwah sinar yang mengintip pagi
Melewati lambaian cemara di sisi bukit yg tertunduk keperkasaan gunung
Langkah masih berderap menggesek rumput-rumput liar yg msih basah tersentuh embun dalam renungnya semalam tadi
Di bawah langit yang masih teduh menyaksikan rangkaian cerita yang pernah terlewati dari yang bermakna duka & luka ataupun bahagia yang terbungkus nestapa
Kita pernah terbuai dalam alunan tawa & terjebak dalam kiasan makna yg mengadu setiap pertentangan rasa
Namun seperti air yg mengalir ke arah samudra
Dr arah mna pun kita melangkah, brgerak, brsorak, hingga brlari
Kita ttap satu dlm peraduan yg sama yaitu ikatan dlm rasa yg tak akn trpisah oleh rangkaian masa yg prnah mnjadi cerita
Bersama melintas di bwah sinar yang mengintip pagi
Melewati lambaian cemara di sisi bukit yg tertunduk keperkasaan gunung
Langkah masih berderap menggesek rumput-rumput liar yg msih basah tersentuh embun dalam renungnya semalam tadi
Di bawah langit yang masih teduh menyaksikan rangkaian cerita yang pernah terlewati dari yang bermakna duka & luka ataupun bahagia yang terbungkus nestapa
Kita pernah terbuai dalam alunan tawa & terjebak dalam kiasan makna yg mengadu setiap pertentangan rasa
Namun seperti air yg mengalir ke arah samudra
Dr arah mna pun kita melangkah, brgerak, brsorak, hingga brlari
Kita ttap satu dlm peraduan yg sama yaitu ikatan dlm rasa yg tak akn trpisah oleh rangkaian masa yg prnah mnjadi cerita
- Faizar
Bahroizy - Sastra Offering A -
Meraba seberkas
rasa dalam sejengkal kisah yg bertapa di bukit nestapa
Mengalir alunan suara hati lewat gema nuansa yg tersentuh jalinan asa
Namun semua rasa tetap bertingkah di dalam jiwa
Hanya mampu muncul ke dunia nyata ketika jelma mampu menguak rasa
Mengalir alunan suara hati lewat gema nuansa yg tersentuh jalinan asa
Namun semua rasa tetap bertingkah di dalam jiwa
Hanya mampu muncul ke dunia nyata ketika jelma mampu menguak rasa
- Faizar
Bahroizy - Sastra Offering A -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar